Masjid Al-Qadr Betun : Puasa Sebagai Revolusi Mental
Puasa (shaum) merupakan kebutuhan, bukan sekadar kewajiban dan taklif ilahi belaka. Puasa merupakan pendidikan, bukan beban belaka.
Puasa merupakan tuntunan menuju perbaikan diri, bukan sekadar tuntutan samawi belaka.
Puasa sebagai Sarana Revolusi Mental Umat Islam!
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah:183)
وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Al-Baqarah : 184).
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab : 35).
Puasa pada hakikatnya adalah momentum untuk menjadikan diri sebagai pribadi baru yang lebih sukses dan bahagia. Melalui puasa hubungan jiwa manusia begitu kuat dengan Allah, karena dengan puasa berarti mampu melakukan pengendalian diri; terhindar dari berbagai perbuatan maksiat; terhindar berbuat salah dan keliru karena pikiran lebih jernih dan tak terkontaminasi oleh apa pun; sekaligus banyak menuai kebaikan karena benih kebaikan yang ditebarkan pada sesama.
Kadang pula hampir selalu bisa meraih cita-cita dan keinginan baik karena pribadi yang lebih sabar (lebih hati-hati dan tak kenal lelah) untuk berusaha meraih cita-cita dan keinginan baik itu.
Puasa juga merupakan sarana untuk mendidik manusia -terutama umat Islam- agar sukses dan bahagia dalam menjalani hidup; yaitu dengan selalu teratur dalam menata waktu secara baik; Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.
Sebagaimana dengan puasa juga mendidik manusia untuk hidup yang lebih baik dan mencapai derajat yang terbaik; baik melalui jalinan hubungan yang baik secara horizontal (hubungan yang erat dengan Allah) dan vertikal (hubungan baik kepada seluruh makhluk, terutama sesama muslim dengan saling memberi, saling peduli dan meningkatkan solidaritas yang tinggi).
Dengan ibadah puasa pula, Allah SWT ingin memberikan tarbiyah (pembinaan) kepada umat; agar tercetak sosok yang shalih; meningkat keimanannya; bertambah mulia akhlaqnya; dan luas pengetahuannya serta tinggi komitmennya terhadap jalan dakwahnya dalam rangka menggapai ridha Allah SWT, lalu setelah itu akan lahir kepribadian islami yang utuh dan seimbang, yang siap menjawab tantangan zaman dengan segala problematika, ujian dan cobaan hidup di dunia menuju kebahagiaan hidup yang kekal di alam akhirat kelak.
Aisyah ra pernah berkata:
إِذَا سَلِمَ رَمَضَانَ سَلِمَتِ السَّنَةُ ، وَإِذَا سَلِمَتِ الْجُمُعَةُ سَلِمَتِ الأَيَّامُ
“Jika seseorang selamat –secara baik- dalam ibadah Ramadhan maka akan selamatlah satu tahun penuh setelahnya, dan jika selamat pada hari jumat nya maka akan selamat pula hari-hari setelahnya”. (Baihaqi)
Puasa sebagai Sarana Pendidikan Mental
Secara garis besarnya, ibadah puasa merupakan sarana tarbiyah yang meliputi beberapa hal berikut:1. Tarbiyah Ruhiyah
Puasa adalah sarana pembinaan spiritual menuju kesucian jiwa.
Pada dasarnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, selain merupakan kewajiban dan alasan penciptaan manusia dan makhluk lainnya; juga merupakan sarana untuk membersihkan diri dari berbagai kotoran dan dosa yang melumuri jiwanya, sehingga tidak ada satu ibadah pun yang lepas dari tujuan tersebut; shalat misalnya merupakan sarana untuk mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar.
Zakat yang dikeluarkan oleh orang kaya merupakan sarana untuk membersihkan diri dan hartanya dari kotoran yang terdapat dalam jiwa dan hartanya, seperti yang tersirat dalam surat At-Taubah ayat 103 Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan (jiwa dan harta) mereka”.
Dan dalam surat Al-Lail ayat 18.
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
“Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya (jiwa dan hartanya)
Begitu pula dengan ibadah puasa; berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (pembersih jiwa); karena orang yang berpuasa selain dapat menjaga diri untuk tidak makan dan minum, juga dituntut untuk mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah SWT walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga diri dari ucapan kotor dan keji, sifat dengki dan hasad.
Dalam ibadah puasa juga ada hikmah yang tinggi; memenangkan ruh ilahi atas materi dan akal atas nafsu angkara murka.
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu, dapat menghapus segala kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)”. (Huud:114)
Nabi saw bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan dihapus segala dosa-dosanya yang telah lalu”. (Bukhari)
2. Tarbiyah Jasadiyah
Puasa merupakan sarana pembinaan jasmani untuk lebih kuat.
Ibadah puasa juga merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian diri dari hawa nafsu namun juga membutuhkan kekuatan fisik, karenanya puasa tidak wajib pada mereka yang kesehatannya tidak prima dan tidak memiliki kemampuan untuk berpuasa, seperti orang tua yang telah renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui dan khawatir terhadap kesehatan janin atau bayinya, serta orang yang sedang musafir (dalam perjalanan); yang mana semua itu diberikan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Maka Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al-Baqarah:184).
3. Tarbiyah Ijtima’iyah
Puasa merupakan sarana tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)
Selain melatih diri, puasa juga memiliki sisi pendidikan sosial, apalagi dalam kewajiban puasa Ramadhan, kian terasa sisi tarbiyah sosialnya; karena umat Islam di seluruh dunia diwajibkan menunaikan ibadah puasa, tanpa terkecuali; baik yang kaya maupun yang miskin, pria maupun wanita, para pejabat maupun rakyat jelata, dan lain-lainnya, kecuali bagi mereka yang memiliki udzur syar’i (alasan sesuai syariah).
Di sinilah letak pendidikan sosialnya; mereka berada pada derajat yang sama di hadapan perintah Allah SWT; sama dalam merasakan lapar dan dahaga serta dalam menahan hawa nafsu lainnya, begitupun sama dalam ketundukan terhadap perintah Allah SWT.
Sebagaimana puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, saling mencintai dan berkasih sayang kepada sesama terutama terhadap fakir dan miskin, sehingga orang-orang yang mampu dapat merasakan apa yang diderita oleh orang-orang fakir dan miskin, lalu tergugah hatinya untuk mau memberi dari sebagian rezki yang Allah SWT anugerahkan kepadanya.
Dari sini pula di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas serta peduli melalui ibadah puasa.
Sebagaimana dalam ibadah puasa bulan disunnahkan untuk memperbanyak sedekah, karena sedekah yang paling utama adalah yang dilakukan pada bulan Ramadhan; baik dengan sedekah yang wajib; seperti berzakat mal, zakat fitrah, zakat niaga, zakat profesi, maupun sedekah yang sunnah; seperti berinfak, memberi makan (iftar) kepada orang yang berpuasa, dan lain sebagainya.
Dalam puasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan saling menghormati dalam kehidupan yang memiliki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam.
Perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari adalah bahwa dengan adanya perbedaan tersebut umat Islam tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, menambah wawasan dan memperkokoh bangunan Islam, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, saling mencela, saling menuding dan saling menghina apalagi saling berkelahi dan saling membunuh, oleh karena permasalahan sepele dan furu’ saja.
4. Tarbiyah Khuluqiyah
Puasa merupakan sarana tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlaq menuju pribadi mulia)
Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlaq yang mulia dan terpuji, memiliki kesabaran dan kejujuran serta ketegaran dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, hal ini terlihat dari arahan Rasulullah Saw. dalam meriwayatkan hadits Qudsi bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan akhlaq yang buruk. Wajib menjaga diri, jangan sampai melakukan ghibah (menceritakan aib orang lain), atau melakukan hal-hal yang tiada berguna, sehingga Allah SWT berkenan menerima puasanya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a.:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلاَّ الصِّيَامُ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثُ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبُ، فَإِنْ سَابّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Allah SWT berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, apabila kamu sedang puasa janganlah berkata keji(memaki), janganlah berteriak-teriak dan janganlah berbuat perkara yang bodoh. Apabila ada seseorang yang mencacinya atau memeranginya maka katakanlah ‘Sesungguhnya aku sedang puasa… .” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Tarbiyah Jihadiyah
Puasa juga merupakan sarana menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat Islam, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam setiap jiwa; dengan mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang.
Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad nyata dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam yang setiap saat merongrong eksistensi umat Islam.
Oleh karenanya banyak kisah yang terjadi pada masa Rasulullah saw bahwa peperangan yang terjadi dan dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya adalah pada bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, hati dan jiwa merasa terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding pada hari dan bulan lainnya.
Puncak tarbiyah yang dapat diraih oleh seorang muslim dalam ibadah adalah mencapai derajat taqwa, sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT pada penutup perintah-Nya untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan hati dan jasmani terjaga.
6. Tarbiyah Shihiyyah
Rasulullah Saw bersabda: “Berpuasalah kalian, niscaya akan sehat” (Thabrani).
Puasa selain merupakan ibadah amaliyah yang diwajibkan dengan cara menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu, juga merupakan sarana yang dapat memberikan kesehatan bagi tubuh.
Dalam kondisi normal, tubuh mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari luar tubuh, melalui makanan, minuman dan radiasi Autolisis atau self digest yang merupakan salah satu program untuk mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari dalam tubuh, melalui pembakaran sel-sel tubuh yang dikenali sebagai sumber makanan. Saat berpuasa maka program Autolisis ini aktif dan memberi manfaat yang dibutuhkan makhluk.
Ketika berpuasa sistem pencernaan manusia beristirahat. Sel-sel liar dan lemak yang telah dihancurkan akan dibawa ke hati. Saat puasa, hati tidak disibukkan oleh makanan hasil serapan dari usus. Oleh karena itu, hati akan bekerja penuh menyaring racun-racun hasil autolisis.
Selanjutnya racun akan dibuang keluar tubuh. Lalu darah akan dipenuhi energi dan nutrisi yang sehat dan berkualitas tinggi. Menjamin penggantian sel mati, perbaikan sel rusak, dan pembentukan sel baru, terjadi dengan kualitas prima. Tubuh manusia akan segera memiliki sel-sel baru dengan kualitas fitrah, sehat dan berfungsi baik ketika puasa. Sementara itu, energi yang di hemat dari sistem pencernaan, akan digunakan untuk aktivitas sistem kekebalan tubuh dan proses berpikir oleh otak.
Manfaat puasa dari sisi kesehatan bagi manusia sangatlah banyak, seperti :
- Efektifitas pengelolaan energi
- Menghancurkan sel-sel yang tidak dibutuhkan
- Membuang endapan racun dalam tubuh
- Menyembuhkan penyakit
- Meningkatkan kemampuan belajar
- Kembali Fitrah (awet muda dan cerdas)
Bedanya orang puasa dan orang yang telat makan adalah pada niatnya. Saat lapar, otak memerintahkan organ-organ pencernaan bersiap-siap ‘makan’. Liur, lambung, hati, usus, beramai-ramai mengeluarkan enzim dan beraktivitas.
Bila tidak ada makanan yang masuk, maka lambung dan usus akan sakit. Kita akan terkena sakit maag atau radang usus, karena lapar namun berbeda dengan puasa yang sejak awal sudah diniatkan, sehingga sel-sel tubuh tidak aktif mencari solusi mendapatkan makanan, dan sangat jarang orang karena puasa terkena penyakit maag dan kembung.
Allah SWT mewajibkan umat manusia (umat Islam) berpuasa pada siang hari bukan pada malam hari; karena pada siang hari manusia beraktivitas bukan tidur, dan dengan aktivitas tersebut akan membakar energi hingga habis.
Bahwa kebutuhan energi diperoleh dari glukosa hasil makan (sahur). Setelah habis energi diperoleh dari glikogen dalam darah. Bila kandungan glikogen berkurang baru otak menyatakan lapar dan menyuruh makan.
Bila kita sedang puasa, otak akan menghidupkan program Autolisis. Namun pada malam hari, tanpa aktivitas fisik, energi yang dibutuhkan tubuh sedikit, sehingga glikogen darah tidak pernah terpakai dan autolisis tidak pernah diperintahkan untuk aktif.
Jadi, ketika berpuasa sebaiknya manusia beraktifitas normal, agar dapat memperolah manfaatnya bukan tidur sepanjang siang.
Dan puasa hanya dibatasi pada siang hari saja, yang dimulai sejak waktu subuh tiba hingga beduk Maghrib; karena jika puasa melebihi waktu dari 16 jam akan membahayakan tubuh. Produksi enzim oksidasi asam lemak dalam tubuh terbatas dan akan habis bila manusia berpuasa selama 16 jam lebih.
Bila seseorang memaksakan diri untuk terus berpuasa, maka kadar asam lemak bebas (free fatty acids) dalam darah akan tinggi sehingga dapat menyebabkan otak menjadi pusing, kemudian membengkak dan lama-lama menjadi koma. Oleh karena itu, makan sahur mendekati imsak, dan bersegera berbuka waktu masuk magrib sangat ditekankan, dan menjadi bagian dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw.
Komentar
Posting Komentar